[Suakaonline]-Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) Tarbiyah dan Keguruan menggelar acara bedah bukuThe Road To Allah karya Jalalludin Rahmat, Minggu (18/12) di Auditorium Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Bedah buku ini merupakan acara puncak dari rangkaian acara Paradise SMF Tarbiyah dan Keguruan yang sebelumnya telah menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), Syahril, serta Tahfid yang diikuti oleh mahasiswa UIN.

Acara yang mengusung tema Perspektif Budaya dan Pendidikan ini dimulai pada pukul 08.30 WIB dengan dibuka langsung oleh Prof. Dr. H. Mahmud M. Si selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan dilanjutkan dengan penampilan Paduan Suara (Padus) dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (SAEED)

Acara bedah buku tersebut, tidak hanya mengundang langsung penulisnya yaitu Jalalludin Rahmat yang akrab disapa dengan Kang Jalal, namun ikut hadir juga Asep Nursobah, Dosen Fakultas Tarbiyah serta Bambang Q. Anees, Dosen Fakultas Ushuludin sebagai pembicara. Dalam bedah bukunya, Jalalludin mengungkapkan bahwa tasawuf itu memiliki dua arti. Pertama berarti sebuah perjalanan menuju Allah SWT. “Orang-orang yang bertasawuf berarti orang yang ingin segera bertemu dengan Allah ataupun Rasulnya,” ungkapnya. Dan yang kedua, tasawuf dianggap sebagai dimensi esoterik bagian batiniyah yang tidak bisa untuk dideskripsikan.

Jalalludin tak banyak menjelaskan isi bukunya, namun ia mengungkapkan salah satu alasan mengapa ia menulis buku itu karena keluarga dan lingkungannya. Ia merasa telah mendapat berkah untuk menulis buku ini, dimana berkah yang dipahaminya adalah sebuah konsep. Konsep yang bisa dipandang secara transparan. Seperti halnya air zam-zam yang entah mengapa bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Ia menganggap zam-zam itu adalah berkah. Dan ia mengalami banyak peristiwa bersama keluarga dan lingkungannya sehingga mencoba untuk membawa mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Maka ditulislah buku berjudul The Road To Allah.

Wahyu, ketua pelaksana acara tersebut berharap, dengan digelarnya acara ini, mahasiswa mampu lebih aktif dan semangat untuk selalu berdiskusi serta mengembangkannya terutama dalam hal pendidikan untuk kemajuan. “Untuk kemajuan bagaikan memasak air di atas kompor. Kita mahasiswa berperan sebagai sumbunya, dan jika apinya ingin menyala maka kita harus bergerak dan berusaha menyalakan api itu,” ujarnya.

Ada satu ungkapan terakhir yang disampaikan Jalalludin Rahmat sebagai penutup bedah bukunya, “CINTA yang sejati itu bukan atas KARENA, tapi atas WALAUPUN,”